Diumur ku 21 tahun.
Halo diriku disepuluh tahun yang akan datang bagaimana kabar mu dan apa yang sedang kau lakukan. Bagaimana kabar teman-teman dan keluarga ku ditahun itu ?apa mereka sudah bahagia dan bagaiamana kabar ku. Hasil apa yang telah kudapat?
Untuk diriku di sepuluh tahun yang lalu. Aku harap kamu baik walaupun sebenarnya tidak. Lingkungan sangat membuat mu hancur. tidak banyak yang dapat kamu perbuat. Kamu sering menyalahkan dirimu Tapi jangan khawatir dirimu yang sekarang sedang berproses mengejar mimpi indah untuk dirimu dan keluarga mu. Tentu aku dapat dititik ini berkat perbuatan baik mu saat itu. Jangan kau terlalu menyalahkan teman mu yang berkata buruk. mereka juga yang mengajarkan mu untuk hidup yang lebih baik serta menjadi orang yang jangan sampai sama dengan mereka. aku sangat berterima kasih untuk mu saat itu.
Untuk diriku yang sekarang. Tentu ini doa serta harapan. Kamu yang mencintai kesunyian, berharap pada kesetiaan, serta menatap keindahan. Sudahi kebohonganmu. Mulai dari awal. Ini kesempatan terakhir mu. Apa yang kamu lakukan akan menjadi pemicu esok dan seterusnya mari buat rencana akhir. Sayangi tuhan mu, dirimu, keluarga mu. Jangan sedih ketika cinta dan pertemanan bertepuk sebelah tangan. Setidak kata-kata ini pernah hinggap dibenak mu menemani mu ditengah kesendirian mu.
Mari kita akhiri surat ini. Sampaikan salam ku ini pada semesta. Ceritakan hal indah pada Nya
Politik dan Kaum Intelektual
Menceritakan serta menginformasikan segala kehidupan kaum intelektual dalam Interaksi dengan masyarakat serta kontribusi dalam kehidupan berpolitik dan bernegara
Minggu, 10 November 2019
Rabu, 14 Agustus 2019
Surat Perkenalan
Salam Senja kawan-kawan ku.
Perkenalkan aku pembelajar intelektual dalam tembok penjara gedung mahal serta sang calon aktivis dalam sekat papan nama Organisasi kaum intelektual. Bagaimana kabar kalian yang menjadi korban majikan pendidikan, kasta ekonomi, serta pisau hukum atau hal lain. Apa ditempat kalian sedang terjadi fenomena banyak penuh dengan tikus besar, pemimpin yang gila akan memperintah. Bagaimana kabar kalian menjadi rakyat dari sebuah Negara dimana sang tetua mengambil alih pemimpin, sang kaum muda yang diperbudak nafsu dan pendidikan yang sebatas formalitas atau bahkan sang calon penerus bangsa yang baru bisa membaca atau tertatih berjalan memegang teknologimel yang melunjak
Kesehatan, Kemakmuran serta Kejayaan selalu aku lafalkan ketika aku membacakan puisi pada tuhan ku di sepertiga malam seperti yang sering dilakukan oleh calon penguasa suara rakyat disaat berharap menjadi titah rakyat ketika berucap mantra pemikat. Tidak akan ku berdoa, alam mendukungmu untuk tanah mu karena doa itu sudah terwujud lebih dari tiga abad yang lalu. Bermesralah dengan sesama manusia ditanah kalian tanpa memandang atribut pilihan manusia yang memang beda. Kalian memiliki pondasi dalam hidup di bumi kalian, perlukah itu diragukan atau kau pertanyakan.
Perkenalkan aku sang pemerhati keindahan senja di tanah kalian. Salam iri dari tanah ku yang tandus
Langganan:
Postingan (Atom)